Jumat, 12 Juli 2013

Lirik Lagu In My Eyes



Rufio – In My Eyes

You're graceful, your grace falls
Down around me in my eyes
You're lovely, your love leaves
So easily in my eyes

Another day left waiting
Alone in my room with no calls from you
So I call you up, but you let me down
Falling down around everyone except yourself
I thought that this would never end
Things were so clear but they fell through
High hopes of problems never failed
Thinking of the best

You're graceful, your grace falls
Down around me in my eyes
You're lovely, your love leaves
So easily in my eyes

Another day left crying
With you in my room, with nothing left to do
You say that it's not right
You said it's over now
Stand still annoyed with no one around
I thought that this would never end
Things were so clear but they fell through
High hopes of problems never failed
Thinking of the best

You're graceful, your grace falls
Down around me in my eyes
You're lovely, your love leaves
So easily in my eyes

Lirik Lagu Helena



My Chemical Romance - Helena
Long agoJust like the hearse you die to get in againWe are so far from you
Burning on just like a match you strike to incinerateThe lives of everyone you knowAnd what's the worst you take (worst you take)From every heart you break (heart you break)And like the blade you stain (blade you stain)Well I've been holding on tonight
[Chorus]What's the worst thing I could say?Things are better if I staySo long and goodnightSo long and goodnight
Came a timeWhen every star fall brought you to tears againWe are the very hurt you soldAnd what's the worst you take (worst you take)From every heart you break (heart you break)And like the blade you stain (blade you stain)Well I've been holding on tonight
[Chorus]What's the worst thing I could say?Things are better if I staySo long and goodnightSo long and goodnightWell if you carry on this wayThings are better if I staySo long and goodnightSo long and goodnight
Can you hear me?Are you near me?Can we pretend to leave and thenWe'll meet againWhen both our cars collide?
[Chorus]What's the worst thing I could say?Things are better if I staySo long and goodnightSo long and goodnightWell if you carry on this wayThings are better if I staySo long and goodnightSo long and goodnight

Lirik Lagu Mr Brightside



The Killers  - Mr.Brightside
I'm coming out of my cageAnd I’ve been doing just fineGotta gotta gotta be downBecause I want it allIt started out with a kissHow did it end up like thisIt was only a kiss, it was only a kissNow I’m falling asleepAnd she’s calling a cabWhile he’s having a smokeAnd she’s taking a dragNow they’re going to bedAnd my stomach is sickAnd it’s all in my headBut she’s touching his—chestNow, he takes off her dressNow, let me go
I just can’t look its killing meAnd taking controlJealousy, turning saints into the seaSwimming through sick lullabiesChoking on your alibisBut it’s just the price I payDestiny is calling meOpen up my eager eyes‘Cause I’m Mr Brightside
I’m coming out of my cageAnd I’ve been doing just fineGotta gotta gotta be downBecause I want it allIt started out with a kissHow did it end up like thisIt was only a kiss, it was only a kissNow I’m falling asleepAnd she’s calling a cabWhile he’s having a smokeAnd she’s taking a dragNow they’re going to bedAnd my stomach is sickAnd it’s all in my headBut she’s touching his—chestNow, he takes off her dressNow, let me go
I just can’t look its killing meAnd taking controlJealousy, turning saints into the seaSwimming through sick lullabiesChoking on your alibiBut it’s just the price I payDestiny is calling meOpen up my eager eyes‘Cause I’m Mr Brightside
I never...I never...I never...

Kuliner Khas Magelang



Setelah kita mengetahui sejarah singkat tentang kota Magelang mari sekarang kita berburu kuliner yang ada di magelang :
Mangut Beong, Kuliner Khas Ikan Sungai Progo
mangut beong
Pernah mendengar nama ikan beong? Atau bahkan mencoba merasakan racikan masakan ikan beong? Bagi anda pecinta kuliner ikan air tawar, saatnya untuk mencoba citarasa masakan ikan yang berbeda, yakni mangut beong khas Kabupaten Magelang.
Mangut ikan beong sekilas memang seperti mangut ikan pada umumnya. Namun, lihatlah porsi potongan ikan yang disajikan. Dari bagian kepala ikan saja sudah bisa dibayangkan jika ikan beong berukuran cukup besar. Lalu bagaimana dengan rasanya?.
Pedas, itulah kesan dari mayoritas pengunjung di warung mangut beong ‘Sehati’ yang terletak di jalan Pangeran Diponegoro Km 3 Kembang Limus, Borobudur, Kabupaten Magelang. Olahan ikan beong di warung ini memang sengaja dibuat untuk lidah berselera pedas.
Ikan beong sendiri merupakan jenis ikan air tawar yang konon habitatnya hanya ada di Sungai Progo. Bentuk ikan ini mirip dengan ikan lele dengan ukuran yang lebih besar. Daging ikan ini juga lebih tebal, bertekstur lembut dan kenyal. Sebagian besar penikmat beong bahkan mengaku daging ikan ini tidak terlalu amis jika dibandingkan dengan ikan pada umumnya.
Menurut pemilik warung, Murniyati, masakan mangut beong ini telah ia sajikan di warungnya sejak 15 tahun terakhir. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan 50-80 kilogram ikan beong untuk diolah. “Setiap hari selalu habis, apalagi jika masa liburan,” katanya.
Mangut beong sendiri sebenarnya diramu dengan menggunakan bumbu yang sederhana. Diantaranya bawang merah, cabai, santan, daun sereh, jahe, lengkuas, dan kencur.
Seporsi menu mangut beong dipatok dengan harga Rp12.000. Sementara khusus untuk menu ndas atau kepala ikan beong dipatok Rp25.000 sampai Rp40.000 sesuai besar kecilnya ukuran.
Nasi Lesah Makanan Khas Magelang
nasih lesah
Di Kabupaten Magelang terdapat satu menu kuliner yang bernama nasi lesah. Nasi yang terdiri campuran sayur sayuran disiram perpaduan kuah kaldu ayam dan santan. Menu kuliner yang hampir sama dengan soto tersebut sekarang ini susah untuk ditemukan.
Nasi lesah, begitulah namanya. Tidak banyak orang yang tahu tentang menu kuliner khas Magelang ini, bahkan orang Magelang sendiri. Penjualnya pun sekarang ini bisa dihitung dengan jari. Namun, menu kuliner yang terkenal lezat dan murah ini dapat ditemukan di Desa Tanjungsari, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.
Secara sekilas, nasi lesah hampir mirip dengan soto. Yang membedakan, terletak pada kuahnya. Nasi lesah menggunakan kuah campuran santan. Selain itu jika anda membeli soto pasti disajikan dalam mangkok. Namun nasi lesah cukup disajikan dalam piring.
Salah satu pembeli, Ambarwati mengaku  walau kuahnya terlihat keruh karena ada santannya, rasa nasi lesah cukup gurih. Meski terdapat santan rasanya pun tidak eneg.
Penjual nasi lesah, Sulimah mengaku sudah sepuluh tahun menjual nasi lesah ini. Nenek enam cucu in hanya meneruskan tradisi keluarga yang telah berpuluh tahun menjual menu kuliner khas Magelang ini.
Proses penyajian nasi lesah ini pun sangat sederhana. Pertama, nasi  putih dicampur dengan irisan kubis, wortel, daun seledri serta kecambah. Selanjutnya, nasi lesah disiram kuah santan kaldu dan nasi lesah pun siap dihidangkan.
Untuk satu porsi nasi lesah ini sangat terjangkau yakni enam ribu rupiah saja. Warung buka mulai dari pukul 07.00 hingga 15.00 sore. Setiap harinya warung ini mampu menjual 50 porsi nasi lesah. Nah, jika anda sedang melintas di Magelang tak ada salahnya untuk mampir menikmati nasi lesah.
Jemunak, makanan khas Magelang saat Ramadan
jemunak
Add caption
Warga sekitar Muntilan Magelang, Jawa Tengah menyebutnya Jemunak, sejenis bubur kenyal manis. Bubur ini hanya muncul setahun sekali yakni saat bulan puasa datang. Makanan ini merebak di beberapa warung serta penjual dadakan di sela-sela waktu Ngabuburit atau menjelang buka puasa di Magelang dan sekitarnya.
Rasanya yang manis dari cairan gulanya yang disebut ‘kinco’ sekaligus gurih dari adonannya yang terbuat dari terigu ketela dan ketan, membuat jajanan ini digemari karena segera mengembalikan stamina tubuh setelah seharian berpuasa.
Jemunak dibuat dari bahan dasar ketela, beras ketan, gula merah dan kelapa. Cara membuatnya sederhana, namun membutuhkan kesabaran dan ketelatenan dalam proses pembuatannya. Awalnya, beras ketan dan ketela setelah diparut (dihaluskan) dimasak dalam tempat yang berbeda. Setelah dirasa setengah matang, kedua bahan itu dicampur dan ditumpuk hingga lembut. Lalu, dimasak lagi hingga keduanya benar-benar matang dan siap saji.
Makanan itu lantas disajikan dengan siraman gula merah dan parutan kelapa di atasnya. Kenyal, manis dan gurih. Demikian rasa makanan itu terasa di lidah saat mengecapnya.
“Terbuat dari beras ketan dan ketela, makanan itu juga membuat perut cepat kenyang dan saya paling senang berbuka puasa dengan Jemunak itu. Selain harganya murah dan terjangkau juga menjadikan stamina cepat pulih kembali,” kata Anie Rahmawati (30), warga Sayangan, Muntilan, Magelang penggemar Jemunak.
Selintas, rasa Jemunak mirip kue lupis yang biasa dihidangkan bersama cenil atau klanthing dan bubur Madura. Sama dengan Jemunak, kedua jajanan itu juga dihidangkan dengan gula jawa dan parutan kelapa. Bedanya, Jemunak tak selunak lupis saat digigit.
Tak hanya dibuat saat Ramadan tiba, di Muntilan atau bahkan di Magelang, Jemunak dulu awalnya hanya dibuat di satu tempat, yakni rumah Mbah Mulyodinomo di Dusun Karaharjan, Desa Gunung Pring Muntilan, Magelang. Secara turun temurun, keluarga kakek berusia sekitar 75 tahun itu mewarisi keahlian membuat jemunak dari kakek buyutnya.
“Seingat saya, orang tua telah membikin Jemunak,” kata dia.
Lantaran fisiknya yang telah menua, kakek yang akrab disapa Mbah Mul itu tak lagi turun membuat Jemunak sendiri. Adapun tradisi membuat Jemunak seperti Ramadan tahun ini dilakukan istrinya, Mujilah (70), dan dibantu anak-anak mereka.
Mujilah menjelaskan, untuk 25 kilogram ketela, 4 kilogram beras ketan, 4 kilogram gula merah dan 4 kelapa, dia bisa membuat 280 bungkus jemunak. Panganan itu dibungkus dengan bungkusan daun kelapa.
“Rasanya lebih enak kalau dibungkus dengan daun kelapa. Walaupun umumnya khan dibungkus daru daun pisang,” ungkapnya.
Munjilah menceritakan dirinya tak pernah memasarkan sendiri Jemunak buatannya. Sejumlah pemilik warung di sekitar Muntilan dan penjaja kue keliling biasa datang ke rumahnya saat Ramadan tepatnya waktu ngabuburit tiba. Mereka memesan Jemunak dan memasarkan ke pembeli di berbagai penjuru Kota dan Kabupaten Magelang.
Agar citarasa Jemunak buatannya tak berubah, wanita tua itu selalu memasak bahan-bahan Jemunak dengan menggunakan kompor tungku berbahan kayu bakar. Di banding dengan kompor gas atau minyak tanah, rasa Jemunak diyakini lebih nikmat dengan menggunakan kayu bakar.
“Saya tidak berani dengan kompor gas, takut meledak dan apinya lebih merasuk ke masakan dengan menggunakan kompor tungku,” jelasnya.
Mbak Sri (63), seorang pedagang kue keliling di desa itu mengatakan Mujilah merupakan satu-satunya pembuat Jemunak di Muntilan. Jemunak buatan Mujilah, dia jual hingga ke pasar Muntilan Magelang atau desa sekitar dengan berjalan kaki. Untuk sebungkus Jumenak, dia menjualnya dengan harga Rp 1.500-2000.
“Sehari bisa bawa 50 bungkus (jemunak), jarang tersisa,” pungkasnya.
Kini, Jemunak sudah dibuat di beberapa tempat tidak hanya di Mbah Mulyodinomo di Dusun Karaharjan Desa Gunung Pring Muntilan, Magelang tetapi karena cita rasa makanan ini tinggi namun penyajian dan penampilannya sederhana membuat warga sekitar Magelang selalu teringat Jemunak jika saat Ramadhan tiba.
Mereka seolah-olah secara serempak membuat hidangan khas ini dan menjajakannya di beberapa warung dan lapak kagetan di pinggir jalan jika menjelang waktu berbuka

Magelang



Pada kesempatan kali ini saya ingin memposting kampung halaman saya, langsung saja mari kita simak tentang ko ta Magelang :
Hari Jadi Magelang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kota Magelang Nomor 6 Tahun 1989, bahwa tanggal 11 April 907 Masehi merupakan hari jadi. Penetapan ini merupakan tindak lanjut dari seminar dan diskusi yang dilaksanakan oleh Panitia Peneliti Hari Jadi Kota Magelang; bekerjasama dengan Universitas Tidar Magelang dengan dibantu pakar sejarah dan arkeologi Universitas Gajah Mada, Drs.MM. Soekarto Kartoatmodjo, dengan dilengkapi berbagai penelitian di Museum Nasional maupun Museum Radya Pustaka-Surakarta.
Kota Magelang mengawali sejarahnya sebagai desa perdikan Mantyasih, yang saat ini dikenal dengan Kampung Meteseh di Kelurahan Magelang. Mantyasih sendiri memiliki arti beriman dalam Cinta Kasih. Di kampung Meteseh saat ini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini sebagai tempat upacara penetapan Sima atau Perdikan.
Untuk menelusuri kembali sejarah Kota Magelang, sumber prasasti yang digunakan adalah Prasasti POH, Prasasti GILIKAN dan Prasasti MANTYASIH. Ketiganya merupakan parsasti yang ditulis diatas lempengan tembaga.
Prasasti POH dan Mantyasih ditulis zaman Mataram Hindu saat pemerintahan Raja  Rake Watukura Dyah Balitung (898-910 M), dalam prasasti ini disebut-sebut adanya Desa Mantyasih dan nama Desa Glangglang. Mantyasih inilah yang kemudian berubah menjadi Meteseh,sedangkan Glangglang berubah menjadi Magelang.
Dalam Prasasti Mantyasih berisi antara lain, penyebutan nama Raja Rake Watukura Dyah Balitung, serta penyebutan angka 829 Çaka bulan Çaitra tanggal 11 Paro-Gelap Paringkelan Tungle, Pasaran Umanis hari Senais Sçara atau Sabtu, dengan kata lain Hari Sabtu Legi tanggal 11 April 907. Dalam Prasasti ini disebut pula Desa Mantyasih yang ditetapkan oleh Sri Maharaja Rake Watukura Dyah Balitung sebagai Desa Perdikan atau daerah bebas pajak yang dipimpin oleh pejabat patih. Juga disebut-sebut Gunung SUSUNDARA dan WUKIR SUMBING yang kini dikenal dengan Gunung SINDORO dan Gunung SUMBING.
Begitulah Magelang, yang kemudian berkembang menjadi kota selanjutnya menjadi Ibukota Karesidenan Kedu dan juga pernah menjadi Ibukota Kabupaten Magelang. Setelah masa kemerdekaan kota ini menjadi kotapraja dan kemudian kotamadya dan di era reformasi, sejalan dengan pemberian otonomi seluas - luasnya kepada daerah, sebutan kotamadya ditiadakan dan diganti menjadi kota.
Ketika Inggris menguasai Magelang pada abad ke 18, dijadikanlah kota ini sebagai pusat pemerintahan setingkat Kabupaten dan diangkatlah Mas Ngabehi Danukromo sebagai Bupati pertama. Bupati ini pulalah yang kemudian merintis berdirinya Kota Magelang dengan membangun Alun - alun, bangunan tempat tinggal Bupati serta sebuah masjid. Dalam perkembangan selanjutnya dipilihlah Magelang sebagai Ibukota Karesidenan Kedu pada tahun 1818.
Setelah pemerintah Inggris ditaklukkan oleh Belanda, kedudukan Magelang semakin kuat. Oleh pemerintah Belanda, kota ini dijadikan pusat lalu lintas perekonomian. Selain itu karena letaknya yang strategis, udaranya yang nyaman serta pemandangannya yang indah Magelang kemudian dijadikan Kota Militer: Pemerintah Belanda terus melengkapi sarana dan prasarana perkotaan. Menara air minum dibangun di tengah-tengah kota pada tahun 1918, perusahaan listrik mulai beroperasi tahun 1927, dan jalan - jalan arteri diperkeras dan diaspal.